Rabu, 29 April 2020

Tak ada teman SEJATI... Tak ada lawan ABADI


Waktu Sholat Jum'at telah usai... 
Para Jama'ah berhamburan keluar masjid, aku ambil sendal swallow warna biru berukirkan huruf "E" milikku.
Aku langsung bergegas ingin pulang demi menunggu mulainya acara serial TV Favoritku "Captain Tsubasa", maklumlah masih kelas 5 SD.
     Jalan setapak menuju rumah tiba-tiba terdengar suara... "j#nc#k", suara itu tepat bergema di samping kiri telingaku berjarak sekitar satu meter, saling menatap mata secara tajam antara aku dan diapun tidak bisa dihindari, amarah pun hampir tak bisa aku tahan lagi, hampir saja aku balas dengan kata-kata kotor juga... namun untungnya aku ingat pesan bapakku tentang buruknya perilaku mengumpat, aku tidak pernah tahu kenapa dia benci denganku? mungkin karena anak-anak lah ya jadi kelakuannya ya absurd... hehe. 
     Ya... sebut saja dia itu bernama Dodi, lalu ku beranikan diriku untuk menantang si Dodi turun dari sepadanya, kataku: turun woy kalo berani... tapi dia cuma membalas tatapan mata tajam yang penuh dendam sambil kabur bersama sepeda merah miliknya.
Maklum lah... Rumahku memang hanya berjarak sekitar 150 meter dari Masjid, sedangkan rumah si Dodi sekitar 500 meter ke arah utara masjid, jadi wajar saja kalu dia gak berani turun ketika aku tantang, pikir dua kali lah dia, kan rumahku deket, hehe... 
Uniknya kejadian itu berulang-ulang sampai 3 kali setiap hari jum'at, itulah yang membuat perseteruan kita berdua ketika itu bagaikan api dan air.
     Namun apa yang terjadi 7 tahun kemudian? ya... tepatnya waktu aku sudah kelas 12 Aliyah, si Dodi yang dulunya ibarat musuh bebuyutan sekarang berada dalam satu madrasah mengaji yang sama denganku, sehingga lama kelamaan kita akrab dan membentuk satu tim futsal bersama kawan-kawan yang lain. Tim Futsal milik kami ketika itu sulit sekali terkalahkan, bahkan sering sekali melumat musuh dengan skor yang sangat telak dengan kerja sama aku dan dia di lini depan yang begitu kompak. Gak nyangka ya... yang dulu musuh jadi temen akrab, dan lucunya ketika dia aku ingatkan masa lalu ketika dia musuhan sama aku, dia malah tertawa ngakak... hahaha. 
Nah... Dari kejadian itulah aku bisa belajar bahwa "Tidak ada lawan abadi di dunia ini" True Story... bro... hehe. 
Masih pengen lanjut gak nih ceritanya? 
Lanjuuut? 
Oke... kali ini kita loncat lagi pake mesin waktu ke Tahun 2014... wkwk.
Yap... Tahun 2014 adalah masa-masa awal aku berada di Salah Satu Pondok Pesantren Terbesar di Jawa Tengah, ya... betul sekali Pondok Pesantren Sarang, Sarang Kota Santri, Sarang Kota dimana celana panjang tidak terlalu laku dijual... haha, gimana mau laku lawong masyarakat dan santri-santri di situ lebih familyar memakai sarung, hehe.
Umumnya anak muda yang baru lulus SMA aku akui diriku masih labil, ditawarin rokok ya mau, diajak ngopi sampai larut malam ya mau, bahkan diajak mbonekpun saya brani, hmmm... memang dasar jaman labil. 
Hari demi hari aku lewati dan orang demi orang pun saya kenali, mulai punya banyak teman akrab, mulai berani ngopi sampai lewat tengah malam dan mulai punya rencana-rencana liar, salah satu temenku ada yang bilang: eh... besok kan malam jum'at musyawarahnya libur, gimana kalo kita ziarah ke Lasem? 
Temen yang satu lagi bilang: eh... mending ke Tuban saja bisa ziarah sambil mampir alun-alun... Saya jawab: hey bro... kalian gak takut apa kalau nanti ketangkap keamanan pondok? kan belum waktunya liburan bro... salah satu temen jawab: gak usah takut... kalau gak ketahuan ya gak bakalan ditangkap lah bro..! 
Saya: kalo itu ya sudah dari dulu bro... tapi gimana caranya agar kita mboneknya aman gak ketangkep keamanan ya? 
temen saya: gampang lah... saya sudah berpengalaman, jam 01.00 dini hari kita tinggal jalan ke arah timur pondok menuju jalan raya terus cari tempat yang aman untuk menstop truk yang lewat...
saya: owh gitu... ok siap bro nanti malam kita jalankan aksi, singkat cerita kita memutuskan untuk berziarah ke kota Lasem disambil ngopi.
     Setelah lewat tengah malam kitapun langsung berjalan ke arah timur dengan santai kayak-kayak gak ada apa-apa, jangan sampai kelihatan gugup karena biasanya tetap ada keamanan yang berjaga di dekat pondok. Setelah aku dan temen-temen berhasil mendapat supir yang dengan senang hati memberi tumpangan kami untuk ke Lasem, kami pun naik ke truk itu dengan sopan. Amit geh pak... kata kami, oh ya monggo kang... kata si supir sambil tersenyum, dan ini adalah awal mula akulah yang paling sering duduk di dekat supir(yang sudah baca postingan blog ini tentang Supir Truk Pantura pasti ngerti, hehe).
     Sesampainya di Lasem dengan selogannya "Kota Batik", saya langsung inisiatif bilang kepada sopirnya: turun sini saja pak... oh iya kang, jawab si supir. Aku dan kedua temanku pun turun disebuah emperan toko lalu berteriak ke pak supir tadi "suwon pak". Jam tanganku menunjukkan pukul 01:50, ya... memang perjalan dari Sarang ke Lasem memang sekitar 1 jam.
Setelah itu langkah kami bertiga langsung menuju ke mushola terdekat untuk merencanakan kegiatan besok pagi, dan ya... mushola kecil pinggir jalan telah kami temukan, setelah wudlu kami bertiga duduk bersila saling berhadapan, saya langsung tanya ke salah satu temen saya sebut saja namanya Semar, si Semar inilah yang sudah berpengalaman sering main ke Lasem, saya tanya... mar semar nanti pagi ngapain kita di Lasem ini? 
Semar : ya... sesuai tujuan kita lah ziarah dulu ke makam Mbah Sambu Lasem yang makamnya terletak di belakang masjid Lasem...
Saya: Ok siap... Lalu setelah itu kita kemana lagi?
Semar: setelah itu kita kerumah cs ku yang rumahnya Lasem sini, nanti mereka kita ajak ngopi santai di Warkop langgananku..!
Saya: owh... ya ya mantap setuju..!
Kemudian saya lanjutkan mengobrol dengan temenku yang satunya lagi sebut aja namanya Elang, menurut temen-temen di Pondok si Elang ini konon masih punya garis keturunan "Jaka Tingkir", ya... kalau aku sih percaya-prcaya enggak sih...hehe.
     Si Elang ini punya kelebihan di bidang ilmu gaib, misal seperti bisa nerawang hal gaib, bisa masukin jin ke tubuh orang sekaligus ngeluarin jinnya dan lain sebagainya, dia juga sih yang ngajarin aku aji-aji cara merubah rasa rokok... haha... 
Aku tanya ke Elang: gimana di moshola sini aman gak dari keamanan pondok? kan biasanya setiap hari jumat keamanan pondok Sarang ada yang operasi sampai ke Lasem...
Si Elang menjawab: aman-aman santai saja bro kita tutup saja pintu musholanya
Saya: owh sip betul tutup saja pintu musholanya.
Adzan subuh berkumandang, kami ambil air wudlu dan berjama'ah subuh bersama warga kampung setempat. 
Ketika sinar mentari pagi menyambut kota Lasem kami langsung bergegas menuju Masjid Lasem, sesampainya di masjid kami pun langsung menuju komplek makam Mbah Sambu yang tepat berada di belakang masjid itu untuk berziarah, perlu diketahui bahwa Mbah Sambu ini memiliki nama asli Sayyid Abdurrahman Basyaiban, beliau adalah putera Pangeran Benawa, putera dari Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya, raja dari Kerajaan Pajang yang merupakan cikal bakal Kerajaan Islam Mataram.
Usai berziarah kami melanjutkan jalan kaki ke rumah temennya si Semar, sesampainya disana aku agak terkejut... rupanya rumah itu adalah sekaligus Markas dari sebuah komunitas pemuda di Lasem sana yang bernama "Panik Comunity", kamipun langsung ngopi bareng di sebuah warkop bersama mereka, kenalan, sharing-sharing, bercanda bareng mereka, dan akhirnya kami bertiga pun juga memutuskan untuk bergabung sebagai anggota Panik Comunity. Singkat cerita setelah itu kami sangat sering main ke Lasem dan ketambahan lagi 3 temen dari pondok yang juga sering ikut ke Lasem, hari demi hari, bulan demi bulan kita lalui dengan kompak, ngerokok joinan, ngopi bareng, satu bungkus nasi dimakan bareng, mbonek bareng, yang pokoknya penuh pelajaran hidup dan pengalaman berharga(mungkin lain kali akan aku ceritakan tentang pengalaman-pengalaman unik dan berharga ketika mbonek ala anak punk, hehe)... pokoknya selama beberapa bulan persahabatan kami berenam sangatlah penuh kebersamaan dan kekompakan.
Sampai pada suatu jumat pagi aku terkejut karena di kotak lemari kamar pondokku ada selembar surat panggilan dari keamanan pondok, pikiran dan perasaanku campur aduk tidak karuan. Disertai jantung yang dag dig dug aku coba baca isi surat tersebut, ternyata aku disuruh untuk datang ke kantor keamanan untuk disidang pada pukul 20:00 malam nanti. Sebanarnya para keamanan tidak pernah melihat langsung ketika aku pergi mbonek bareng temen-temen, namun ketika hari kamis sore setelah aku nganterin temen ada yang sakit ke Tuban, dan tanpa izin keamanan. Disitulah Keamanan baru menyurati aku karena beberapa malam jumat tidak terlihat di kamar.
Singkat cerita di kantor keamanan aku mengakui kesalahanku, aku pun mendapat hukuman berdiri di depan kantor keamanan selama 9 jam yang dicicil selaama 3 hari, jadi setiap hari aku harus berdiri 3 jam untuk menebus kesalahanku.
Dan selanjutnya aku pun mengakui bahwa ada 2 temenku yang sering bersamaku pergi ke Lasem, dan otomatis mereka berdua juga akan dapat surat dari keamanan. Kenapa saya mengaku hanya punya 2 temen? karena saya mempertimbangkan yang 3 lainnya temenku itu mereka masih sangat muda, beda dengan 2 temenku yang sudah terhitung dewasa. Mendengar berita bahwa aku tertangkap temen-temenku anggota Panik Comunity hampir semua pada kabur dari pondok karena takut dapat surat dari keamanan. Ada yang lari pulang, ada yang katanya boyong, ada yang lari ke Lasem juga(ke markas Panik Cominity). 
     Persahabatan kita seperti hancur ketika itu, mungkin mereka juga kesal karena dengan berat hati saya harus menyebutkan 2 nama temen ketika sidang di kantor keamanan. Bahkan saya mendengar dari salah satu temen pondok bahwa temen-temenku dari Panik Comunity sedang merancang rencana untuk memukuliku jika suatu waktu bertemu denganku. Mereka semua memusuhiku.
 Ya... inilah resiko yang harus aku ambil, berani berbuat... berani bertanggung jawab. 
Nah... dari pengalaman itulah aku belajar bahwa "Tidak ada teman sejati di dunia ini", tapi ya Alhamdulillah singkat cerita kami berenam berdamai tanpa kekerasan dan menyadari kesalahan masing-masing.
Ya... seperti itulah kenyataannya? pertemanan itu pasti sering mengalami naik-turun, kadang akrab banget, kadang agak renggang lalu baikan lagi... muter terus... hehe. 
Dan gini ya temen-temen... kalau kriteria teman sejati yang kamu maksud adalah orang yang selalu baik padamu, selalu ada untukmu, selalu mau mendengarkanmu, tak pernah menyakiti hatimu, selalu mengingatkanmu pada jalan yang benar, itu kriteriamu? kalau itu semua yang kamu cari dari temanmu ya kamu gak akan pernah menemukan teman sejati... Ingatlah kawan, setiap teman itu punya sisi kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jika kamu mencari kekurangan seorang teman, pasti kamu akan menemukan, karena memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. 
     Tapi jujur saya masih percaya akan adanya SAHABAT SEJATI...
Mereka yang tidak berlebihan memuji-muji kelebihanmu, karena pujian itu bisa sangat berbahaya bagi sifat sombongmu...
Mereka yang tidak terlalu fokus pada kekuranganmu, dan ketika kamu salah mereka memberi saran dengan lembut, bukan memberi kritik pedas yang keluar dari mulut. 
Mereka yang dapat membawamu semakin dekan dengan Rabmu, merekalah Sahabat Sejatimu. 
Mudah-mudahan oleh Alloh kita selalu dikaruniai Para Sahabat yang dapat membawa berkah bagi hidup kita baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin


Erix Hidayatulloh
Bojonegoro, 29 April 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harapan 2021

Harapan 2021  Pertama, jelas Saya ingin mencurahkan rasa syukur Saya kepada Allah SWT, yang telah memberi banyak peluang kebaika...